Nama saya BEH, dan saya tidak pernah membayangkan bahwa kanker akan hadir dalam hidup saya di usia 30 tahun. Semuanya diawali dengan perut yang sering kembung dan rasa tidak nyaman yang lama-lama semakin menyakitkan hingga saya hampir tidak bisa tidur di malam hari. Awalnya saya pikir ini hanya masalah pencernaan biasa, tapi setelah beberapa kali pemeriksaan medis, saya mendapat kabar yang menghancurkan — saya didiagnosis kanker ovarium.
Saya langsung menjalani operasi di Malaysia. Dokter mengangkat ovarium kiri dan tuba falopi saya, dilanjutkan dengan enam sesi kemoterapi. Saya berusaha tetap kuat, tapi pengalaman itu sangat menguras fisik dan mental. Bekas luka panjang di perut saya terus mengingatkan saya pada semua yang telah saya lalui. Kemoterapi menyebabkan muntah hebat dan kerontokan rambut, dan ada momen-momen di mana saya merasa benar-benar hancur.
Setelah berbulan-bulan menjalani pengobatan, saya berharap mimpi buruk itu akhirnya berakhir. Sayangnya, pada tahun 2024, saya mulai mengalami pendarahan dubur. Pemeriksaan lanjutan mengungkapkan bahwa kanker telah kembali dan menyebar ke rektum. Yang lebih memprihatinkan, ada tanda-tanda bahwa ovarium saya yang tersisa juga ikut terdampak. Dokter menyampaikan bahwa pilihan paling aman adalah mengangkat ovarium terakhir saya.
Mendengar kabar itu membuat saya hancur. Saya baru 30 tahun, dan bayangan kehilangan kemampuan untuk memiliki anak sangatlah menyakitkan. Saya juga takut harus menjalani operasi besar lagi dan menanggung lebih banyak penderitaan tanpa jaminan bahwa kanker akan berhenti menyebar. Saya ingin ada pilihan lain — pilihan yang bisa mengobati penyakit ini sekaligus tetap menjaga harapan saya untuk masa depan.
Ketika sedang mencari alternatif, keluarga saya menemukan sebuah seminar berbagi pengalaman tentang kanker yang memperkenalkan terapi intervensi minimal invasif. Setelah mempelajari lebih lanjut tentang metode pengobatan tersebut, saya memutuskan untuk pergi ke Guangzhou untuk evaluasi lebih lanjut. Meski sempat gugup menjalani pengobatan di luar negeri, saya tahu saya harus mencoba.
Sesampainya di rumah sakit, dokter menemukan beberapa tumor di ovarium yang tersisa, rektum, kelenjar getah bening panggul, bahkan lesi kecil di paru-paru saya. Meski kondisi saya cukup serius, tim medis merancang rencana pengobatan yang berfokus pada terapi intervensi, bukan pengangkatan ovarium saya.
Proses pengobatan tidaklah mudah, terutama karena jumlah sel darah putih saya turun drastis setelah prosedur pertama. Namun, para dokter dan perawat memantau saya dengan seksama dan menyiapkan obat-obatan untuk membantu tubuh saya pulih. Perhatian dan semangat yang mereka berikan menjadi kekuatan saya di hari-hari paling berat.
Seiring berjalannya waktu, kondisi saya berangsur membaik. Pendarahan dubur menghilang, dan hasil pemindaian menunjukkan bahwa tumor-tumor tersebut sudah mengecil secara signifikan. Beberapa lesi yang lebih kecil bahkan hilang sepenuhnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, saya merasakan harapan kembali hadir dalam hidup saya.
Yang paling menyentuh hati saya bukan hanya soal pengobatannya saja, tetapi juga kebaikan yang saya terima sepanjang perjalanan ini. Para perawat memperlakukan saya dengan hangat dan selalu memberikan dukungan emosional saat saya merasa takut. Mereka sering bercanda tentang boneka Labubu kesayangan saya, dan momen-momen tawa sederhana itu membantu saya melupakan rasa takut akan kanker, meski hanya sesaat.
Hari ini, saya terus pulih selangkah demi selangkah dan belajar untuk lebih menghargai hidup dari sebelumnya. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kanker memang menakutkan, tapi harapan tidak boleh pernah padam. Saya percaya setiap pasien berhak mendapat kesempatan untuk berjuang demi keselamatan sekaligus kualitas hidupnya. Bahkan di momen-momen paling gelap sekalipun, saya terus berkata pada diri sendiri untuk tetap berani dan terus melangkah maju.

