Pada Januari 2018, aku mulai merasakan nyeri di bagian atas perut. Awalnya aku anggap itu cuma sakit perut biasa. Aku pergi ke rumah sakit setempat di Malaysia, dan hasil diagnosa awal menyebut gastritis kronis. Dokter menyarankan pemeriksaan lebih lanjut, dan setelah CT scan, kenyataan pahit itu pun terungkap — ada tumor di kantong empeduku. Aku didiagnosa menderita kanker kantong empedu yang sudah menyebar ke hati.
Dokter-dokter lokal mengatakan bahwa operasi bukan pilihan untukku. Satu-satunya jalan yang mereka tawarkan adalah kemoterapi konvensional. Aku sudah melihat sendiri apa yang dialami pasien lain saat menjalani kemoterapi — rambut rontok, berat badan turun drastis, mual yang tak henti-hentinya, muntah, dan tubuh yang semakin lemah akibat pengobatan yang ikut membunuh sel-sel sehat. Aku menolak. Aku tidak mau menghabiskan sisa waktuku dalam penderitaan seperti itu.
Kakakku tidak mau menyerah. Ia terus mencari alternatif lain tanpa kenal lelah, hingga akhirnya menemukan St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou. Kami mengunjungi kantor mereka di Kuala Lumpur untuk konsultasi, dan setelah berbicara dengan para spesialis kanker di sana, aku memutuskan untuk berangkat ke Guangzhou.
Pada Desember 2018, aku tiba di rumah sakit tersebut. Tim medis melakukan penilaian menyeluruh terhadap kondisiku — kanker kantong empedu stadium IV dengan dugaan metastasis ke hati, batu empedu, pembesaran kelenjar getah bening, kista ginjal kanan, dan nodul adrenal kiri. Kondisiku memang rumit dan serius.
Para onkologis mengadakan diskusi bersama dan merancang rencana pengobatan yang dipersonalisasi, menggabungkan terapi interventional dan krioterapi. Aku menjalani enam siklus pengobatan. Selama proses itu, aku tidak mengalami efek samping mengerikan yang selama ini aku takutkan. Nafsu makanku kembali. Tidurku membaik. Ketika hasil CT scan ditinjau, hasilnya melebihi apa yang berani aku harapkan — sebagian besar tumor di kantong empeduku telah menghilang, dan lesi metastatik di hatiku berkurang secara signifikan.
Aku sangat berterima kasih kepada dokter yang merawatku, Dr. Zhai, yang selalu penuh perhatian, sabar, dan selalu siap menjawab pertanyaanku bahkan setelah aku kembali ke Malaysia. Istriku setia mendampingiku di setiap langkah, dan melihat raut lega di wajahnya saat aku pulih — itu berarti segalanya bagiku.
Kini, aku dan istriku mulai membuat rencana — rencana untuk bepergian, menikmati hidup, dan menua bersama. Sesuatu yang dulu aku takutkan akan dirampas dariku. Berkat perawatan yang aku terima di Guangzhou, kini aku punya alasan untuk menatap hari esok dengan penuh harapan.

