Pengobatan Minim Sayatan Menyelamatkan Hidupku — dan Lidahku

Semuanya berawal dari benjolan kecil di lidah saya pada Agustus 2015. Saya pergi ke rumah sakit untuk biopsi, dan hasilnya baik-baik saja — jadi saya tidak terlalu memikirkannya. Tapi menjelang Desember, rasa sakitnya sudah tidak bisa diabaikan lagi. Makan pun jadi terganggu, dan ada sesuatu yang terasa tidak beres. Saya kembali untuk biopsi kedua, dan kali ini hasilnya jelas: kanker lidah, sudah di stadium III.

Tahun Baru sudah di depan mata, dan dengan bodohnya saya menunda pengobatan. Saya bilang pada diri sendiri, urusan ini bisa ditangani setelah liburan. Tapi kanker tidak mau menunggu. Luka-luka semakin meluas, rasa sakit makin parah, dan berat badan saya turun drastis. Tidur jadi susah. Bicara terasa melelahkan. Bahkan makan — yang selama ini selalu saya nikmati — berubah menjadi sesuatu yang menyiksa.

Pada Maret 2016, benjolan itu sudah cukup besar sehingga dokter mulai memberikan radioterapi dan kemoterapi di Malaysia. Rambut saya rontok. Indra perasa saya hilang. Tumor mengecil, tapi kemudian datanglah kabar yang paling saya takuti: dokter merekomendasikan operasi untuk mengangkat tumor sepenuhnya. Artinya, setengah lidah saya harus dipotong.

Saya menolak. Saya tidak sanggup membayangkan hidup di mana saya hampir tidak bisa bicara atau makan. Saya adalah seorang pecinta kuliner — makanan adalah salah satu kesenangan terbesar dalam hidup saya. Pikiran kehilangan itu sungguh tak tertahankan.

Saya terus mencari jalan lain. Pada Juli 2016, saya tiba di Modern Cancer Hospital Guangzhou (MCHG). Setelah serangkaian tes darah dan CT scan yang menyeluruh, tim multidisiplin merancang rencana pengobatan untuk saya: pengobatan radikal yang dikombinasikan dengan terapi intervensi dan terapi alami.

Terapi intervensi bekerja dengan cara yang berbeda dari apapun yang pernah saya jalani sebelumnya. Alih-alih mengalirkan obat ke seluruh tubuh, dokter menggunakan pencitraan medis untuk menemukan lokasi tumor secara tepat, lalu menyuntikkan obat anti-kanker langsung ke dalamnya. Konsentrasi obatnya jauh lebih tinggi dibandingkan metode infus biasa, sehingga pengobatan ini menyerang kanker secara lebih efektif sekaligus meminimalkan dampak pada bagian tubuh lainnya. Sayatannya hanya satu hingga dua milimeter — hampir tidak ada apa-apanya.

Setelah sesi pertama, rasa kebas dan bengkak langsung hilang. Ada satu kendala di tengah jalan — saya mengalami demam yang berlangsung hampir dua minggu, akibat port vena yang saya pasang di rumah sakit sebelumnya. Begitu dokter menemukan masalahnya dan melepas port itu, demam pun menghilang.

Setelah dua sesi terapi intervensi dan dua sesi terapi alami, luka-luka di lidah saya tidak ada lagi. Tumor itu hilang. Lidah saya utuh — berfungsi normal, seperti sedia kala.

Saya bisa bicara. Saya bisa makan. Saya bisa merasakan cita rasa makanan lagi.

Setiap harinya saya merasa bersyukur karena tidak menyerah dan tidak menjalani operasi itu. Pengobatan minim sayatan ini mengembalikan bukan hanya hidup saya, tapi juga kesenangan sederhana yang tak ternilai: menikmati makanan lezat.

Mulai Perawatan Anda Hari Ini

Dapatkan panduan dari para ahli dan rekomendasi rumah sakit yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda.
Mulai Sekarang