Hidup terasa penuh harapan — sampai segalanya tiba-tiba berubah. Pada Oktober 2017, aku mulai merasakan tekanan yang tidak biasa di dadaku, sesuatu yang sulit aku jelaskan. Aku pergi ke rumah sakit setempat di Indonesia, dan hasil CT scan menunjukkan dua tumor di paru-paruku, berukuran 5 cm dan 2 cm. Diagnosis pun datang tak lama setelah itu: tumor mediastinum, yang kemudian dikonfirmasi sebagai Hodgkin Limfoma. Rasanya seperti tanah di bawah kakiku tiba-tiba amblas.
Tapi aku dan keluargaku menolak untuk larut dalam keterpurukan. Beberapa tahun sebelumnya, tanteku pernah didiagnosis kanker nasofaring Stadium IV dan menjalani pengobatan di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou. Pemulihannya luar biasa — tidak ada tanda-tanda kekambuhan setelah dua sesi pengobatan minimal invasif. Kata-katanya terus terngiang di benakku: rumah sakit itu lebih canggih, lebih ilmiah, dan lebih efektif dibanding fasilitas yang ada di sini. Itu yang memberiku harapan.
Pada 30 November 2017, aku dan ibuku terbang ke Guangzhou. Sejak pertama kali tiba, kami langsung mendapat perhatian penuh. Tim Multidisiplin (MDT) rumah sakit melakukan pemeriksaan menyeluruh dan mengkonfirmasi diagnosisku. Mereka merancang rencana pengobatan yang disesuaikan khusus untukku: terapi intervensional, dilanjutkan dengan implantasi partikel.
Awalnya aku gugup, tapi tanteku sudah mempersiapkanku dengan baik, dan dokter yang menangani ku menjelaskan setiap langkah dengan sabar. Selama terapi intervensional, obat-obatan antikanker disalurkan melalui pahaku. Selain sedikit sensasi hangat, aku hampir tidak merasakan apa-apa. Ada sedikit mual setelahnya, tapi rasa sesak di dada yang selama ini menggangguku — perlahan mulai mereda.
Seminggu kemudian, aku menjalani implantasi partikel. Setelah itu, tubuhku terasa seperti milikku kembali. Saat aku keluar untuk menjelajahi kota, tidak ada yang menyangka kalau aku sedang menjalani pengobatan kanker.
Sebelum aku dipulangkan, dokterku menunjukkan hasil CT scan terbaru: tumor-tumor itu sudah mengecil secara signifikan, dan kondisiku sudah terkendali. Yang perlu aku lakukan hanyalah kembali untuk kontrol rutin. Rasa syukur yang luar biasa membanjiri hatiku — kepada para dokter, para perawat, dan semua orang yang telah mendampingiku melewati minggu-minggu yang berat itu.
Saat meninggalkan rumah sakit, ada satu hal yang jelas terbayang dalam benakku: kembali ke sekolah. Aku ingin membuktikan bahwa setiap doa dan setiap bentuk perhatian yang diberikan untukku tidak sia-sia. Perjuangan ini bukan hanya milikku — dan begitu pula kemenangan ini.

