Selama bertahun-tahun, saya mengabaikan tanda-tanda yang diberikan tubuh saya. Awalnya sering buang air kecil, lalu susah buang air kecil, kemudian malam-malam tanpa tidur karena terus bolak-balik ke kamar mandi — saya terus meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukan hal yang serius. Pada Juli 2023, saya akhirnya pergi ke rumah sakit lokal di Malaysia. Dokter mengatakan itu hanya pembesaran prostat. Saya minum obatnya, tapi tidak ada yang membaik.
Yang terjadi setelahnya adalah enam bulan penuh ketidakpastian — biopsi di Malaysia, lalu di Singapura, bolak-balik antar kota, menunggu jawaban yang tak kunjung jelas. Hasilnya hanya menunjukkan kanker saluran kemih tingkat tinggi dengan kemungkinan keterlibatan kandung kemih. Dokter di kedua negara sepakat: operasi, radioterapi, dan pemasangan stoma. Artinya, sisa hidup saya harus dijalani dengan kantong kateter urine yang menempel di tubuh selamanya.
Saya menolak. Saya sudah melihat sendiri bagaimana ayah saya menderita saat menjalani radioterapi — sakit kepala hebat, muntah-muntah. Saya tidak mau menjalani hidup seperti itu. Saya pulang ke rumah dan terus mencari jalan lain.
Kondisi saya tidak memberi saya waktu untuk mencari jawaban. Kesulitan buang air kecil semakin tidak tertahankan, hingga saya harus menjalani pemasangan selang khusus di perut (sistostomi) hanya agar bisa buang air kecil. Membawa kantong urine setiap hari terasa sangat membatasi gerak tubuh dan menguras emosi. Saya tidak bisa berolahraga, tidak bisa bergerak bebas, dan merawat lukanya pun terasa melelahkan sekaligus memalukan.
Lalu saya dan istri menghadiri seminar pengobatan kanker yang diadakan oleh RS Kanker Modern St. Stamford Guangzhou. Malam itu, saya mendengar tentang terapi intervensi minimal invasif — sebuah metode pengobatan yang bisa langsung menyerang sel tumor tanpa harus mengangkat organ tubuh saya. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, saya merasakan sesuatu yang hampir terlupakan: harapan.
Dengan bimbingan We Care Asia, saya diarahkan ke sumber yang tepat dan akhirnya tiba di rumah sakit pada akhir tahun 2023. Setelah menjalani pemeriksaan menyeluruh, saya akhirnya mendapat diagnosis yang pasti: kanker prostat stadium IV, dengan sel kanker yang sudah menyebar hingga ke kandung kemih. Berita itu memang berat untuk diterima — namun setidaknya dengan diagnosis yang jelas, pengobatan pun bisa segera dimulai.
Tim dokter merancang rencana pengobatan yang berfokus pada terapi intervensi, yaitu metode pemberian obat antikanker langsung ke jaringan tumor dengan dosis tinggi. Setelah sesi pertama, kemampuan buang air kecil saya membaik dengan jelas. Setelah sesi kedua dan ketiga, tumor mengecil secara signifikan — dan saya akhirnya terbebas dari kantong kateter. Saya menangis. Istri saya menangis. Rasanya seperti mendapatkan hidup saya kembali.
Setelah itu, saya menjalani terapi tanam benih radioaktif untuk lebih lanjut mengendalikan tumor secara lokal. Pada November 2025, hasil CT scan memastikan bahwa tumor prostat maupun benjolan di kelenjar getah bening sudah berhasil dimatikan sepenuhnya.
Ada masa-masa gelap — saat-saat di mana saya merasa benar-benar kehilangan arah dan putus asa. Tapi istri saya tidak pernah meninggalkan sisi saya, dan kami melewati setiap langkah perjalanan ini bersama-sama. Saya sangat berterima kasih kepada tim dokter atas ketelitian mereka, rasa peduli mereka, dan cara mereka memperlakukan saya bukan sekadar sebagai pasien, tetapi sebagai seorang manusia.
Untuk siapa pun yang sedang menghadapi diagnosis serupa: pengobatan konvensional bukan satu-satunya pilihan. Temukan cara yang paling tepat untukmu, dan jangan berhenti mencarinya sampai kamu menemukannya.

