Sebagian besar hidupku kuabdikan untuk Buddha Dharma. Sejak usia sepuluh tahun, aku menjalani kehidupan sebagai biksu — mempelajari ajaran Buddha dan mengabdi di berbagai vihara di Vietnam. Selama bertahun-tahun, aku merasa sudah memahami makna penderitaan, kesabaran, dan keikhlasan. Namun pada tahun 2019, datanglah ujian terberat dalam hidupku, ketika penyakit hepatitis C yang sudah lama kuderita berubah menjadi kanker hati.
Sebelum diagnosis itu, kesehatanku memang perlahan-lahan memburuk. Aku sering merasa kelelahan yang tak kunjung hilang, demam, nyeri di bagian kanan atas perut, sakit kepala, bahkan mati rasa dan nyeri di sekitar rahang dan bibir. Awalnya aku mencoba bertahan dalam diam, mengira itu hanya kelelahan biasa. Tapi setelah serangkaian pemeriksaan medis dan CT scan di rumah sakit setempat, dokter memberitahuku bahwa aku mengidap karsinoma hepatoseluler disertai sirosis hati.
Dokter langsung menyarankan operasi. Mereka memperingatkan bahwa tanpa penanganan, aku mungkin hanya punya waktu tiga bulan. Bahkan dengan operasi sekalipun, tingkat keberhasilannya sangat rendah. Mendengar kata-kata itu terasa seperti berdiri di tepi jurang kehidupan. Namun aku ragu. Aku takut menjalani operasi besar — takut dengan risikonya, infeksi, dan berbagai komplikasi yang mungkin menyusul. Jauh di dalam hati, aku tidak ingin tubuhku harus menanggung prosedur yang begitu berat.
Di saat-saat sulit itulah, salah seorang muridku bercerita tentang sebuah rumah sakit di Guangzhou yang khusus menangani kanker dengan metode minimal invasif. Ia menceritakan kisah seorang pasien yang tumornya hilang setelah menjalani perawatan di sana. Yang paling menarik bagiku adalah kemungkinan melawan kanker tanpa harus melalui operasi terbuka. Tak lama setelah itu, aku pun berangkat ke Guangzhou untuk konsultasi dan menjalani pengobatan.
Sesampainya di sana, tim dokter memeriksa kondisiku dengan teliti dan menyusun rencana pengobatan menggunakan terapi intervensional dan teknologi NanoKnife. Saat itu, ukuran tumorku sekitar 70 × 60 mm. Aku masih ingat betapa gugupnya aku sebelum prosedur pertama dimulai, tapi keramahan dan kesabaran para dokter serta perawat di sana perlahan memberiku ketenangan dan kepercayaan diri.
Pengalaman menjalani pengobatan itu jauh berbeda dari yang aku bayangkan. Prosedurnya minimal invasif dan relatif cepat. Selama terapi intervensional, aku tidak merasakan nyeri yang berarti, dan keesokan harinya aku sudah bisa turun dari tempat tidur. Sementara untuk perawatan NanoKnife, dilakukan di bawah anestesi umum, jadi aku tidak merasakan apa pun selama prosesnya berlangsung. Perlahan-lahan, hasil pemindaian lanjutan mulai menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Tumorku menyusut drastis hanya dalam satu bulan, dan setelah beberapa bulan menjalani pengobatan, tumor itu benar-benar menghilang.
Secara keseluruhan, aku menjalani beberapa sesi pengobatan yang kemudian dilanjutkan dengan imunoterapi untuk mempertahankan hasilnya. Gejala-gejala yang dulu mengganggu hari-hariku — demam, sakit kepala, dan nyeri saraf di wajah — pun perlahan ikut menghilang. Dan yang paling berarti, aku kembali menemukan harapan.
Kini, lebih dari lima tahun berlalu, aku masih menjalani kehidupan yang sehat dan penuh makna. Aku bisa makan seperti biasa, berolahraga, mengurus kegiatan vihara, dan menikmati setiap hari dengan rasa syukur. Pengalaman ini mengajarkanku bahwa kanker tidak selalu berarti akhir dari segalanya. Ia bisa menjadi ujian yang menempa keberanian, keyakinan, dan tekad kita.
Aku selalu berpesan kepada pasien lain: jangan kehilangan harapan setelah menerima diagnosis. Percayalah kepada doktermu, jaga semangatmu tetap menyala, dan yakini bahwa kesembuhan itu mungkin terjadi. Bagiku, bertahan dari kanker hati bukan sekadar perjalanan medis — ini juga perjalanan spiritual yang mengingatkanku betapa berharganya kehidupan yang kita miliki.

